Monday, June 22, 2009
SANG AHLI SURGA
Sudah menjadi kebiasaan Nabi Muhammad SAW selalu melakukan sholat berjamaah di masjid dekat rumahnya bersama sama para sahabat. Dan juga sudah menjadi kebiasaan sebelum dan sesudah sholat beliau memberikan wejangan atau tausyiah kepada para jamaah di masjid tersebut.
Suatu ketika pada saat Nabi memberikan tausyiah sebelum sholat isa’ beliau mengatakan kepada para sahabat bahwa sebentar lagi akan ada orang yang masuk masjid dan orang tersebut adalah ahli surga. Setelah beberapa saat Nabi mengatakan hal tersebut, masuklah orang yang dimaksud ke dalam masjid. Ternyata pada orang tersebut tidak ada tanda - tanda istimewa sehingga para sahabat merasa keheranan. Nabi mengatakan hal ini selama tiga hari berturut – turut.
Kejadian tersebut membuat satu diantara mereka ( para sahabat ) penasaran ingin tahu apa sebenarnya yang membuat Nabi Muhammad mengatakan bahwa orang tersebut merupakan ahli surga. Secara diam-diam dia membututi sang ahli surga sampai ke rumahnya. Dia menyelidiki keadaan rumahnya, ternyata rumahnya juga biasa-biasa saja tidak ada hal yang istimewa. Pada hari berikutnya dia menyelidiki bagaimana sholat orang tersebut, ternyata juga tidak ada yang lebih. Orang tersebut melakukan sholat cuma lima waktu dan jarang sekali dia mengerjakan sholat sunnah rawatib. Penyelidikan salah satu sahabat ini berlangsung selama beberapa hari dan dia tidak pernah menyaksikan satupun hal yang istimewa pada orang yang dikatakan Nabi sebagai ahli surga sampai tiga kali.
Akhirnya sang penyelidik tidak sabar, mendatangi dan menemui obyeknya alias orang yang disebut Nabi sebagai penduduk surga. Ditanyakan kepada orang itu apa yang dikerjakan atau diamalkannya sehingga Nabi tidak ada keraguan mengatakan seperti itu sebanyak tiga kali. Apa jawabannya ? Jawaban yang didapat dari orang ahli surga tersebut adalah bahwa dirinya tidak pernah punya rasa iri terhadap kenikmatan yang diperoleh oleh orang lain ( yang berupa harta, pangkat, jabatan, atau apa saja ), justru dia mengatakan jika melihat orang lain mendapat kenikmaktan dia ikut bersyukur. Kemudian jawaban yang kedua yang didapat dari orang tersebut adalah bahwa dia selalu dan senantiasa bersyukur dengan apa yang didapatkannya atau semua keadaan dan kepunyaan yang diberikan Allah kepadanya, dia syukuri. ( Pengertian bersyukur yang sesungguhnya adalah tidak resah, tidak ‘nggrundel’ kepada Allah, taat kepada Allah mengerjakan apa-apa yang diperintah oleh Allah serta tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah). Wallahu ‘Alam !
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment