SEORANG CINA DAN WTS DAPATKAN HIDAYAH
Suatu hari seorang Cina setengah baya yang belum mendapatkan jodoh, sebut saja namanya Lie Yong pergi ke tempat prostitusi yang lokasinya lumayan jauh dari rumahnya. Sudah bisa diterka dan diduga bahwa dia mau melampiaskan nafsu birahinya di tempat yang sering disebut orang sebagai salah satu tempat maksiat. Setelah tiba di sana dia langsung berkeliling di rumah - rumah dan kamar - kamar bordil itu untuk mencari wanita - wanita yang cocok dengan hatinya. Setelah dia berjalan hampir satu jam karena memang lokasinya yang luas, ditemukanlah wanita yang cocok dengan seleranya, sebut saja Ica. Ica memang masih muda, dan menurut Lie Yong sangat seksi, umurnya kurang lebih 10 tahun lebih muda daripada dirinya.
Setelah didatangi dan dihampiri, Ica langsung mengajaknya masuk ke kamar yang memang disediakan khusus untuknya bila sedang melayani sang tamu yang datang ingin melampiaskan nafsu padanya. Apa yang terjadi di kamar ? Mereka berdua ternyata tidak melakukan itu, tetapi di dalam kamar itu terjadilah dialog antara mereka. Dialog Lie Yong dan Ica di kamar itu berlangsung agak lama, memang ini disengaja oleh Ica agar sang tamu tidak segera ‘menyekapnya’ dalam buaian nafsu birahinya. Bagaimana akhir dialog itu ?
Ternyata Ica menolak dan mengusirnya, tidak mau melayani Lie Yong dengan alasan bahwa dia tidak khitan.
Dengan hati kecewa Lie Yong pulang tanpa bisa ‘merenggut’ wanita yang
diidamkan untuk pemuas nafsunya. Walaupun dia sebenarnya bisa membayar wanita lain yang se -profesi dengan Ica yang berada di lokasi itu yang jumlahnya puluhan, tapi hatinya Lie Yong sudah terlanjur terikat oleh Ica wanita Jawa yang menurutnya paling seksi diantara wanita-wanita yang berada di lokalisasi tersebut.
Berhari - hari Lie Yong memikirkan Ica sang WTS yang ingin dia beli untuk menemaninya tidur walaupun hanya semalam. Dalam pikirannya masih ternyiang perkataan Ica sewaktu dia menolaknya untuk bermalam di kamarnya, yaitu dirinya harus khitan dulu bila ingin menemani tidur Ica. Setelah begitu lama dia merenungkan untuk dapat melaksanakan keinginanya bermaksiat dengan wanita pujaannya, akhirnya dia nekat memutuskan pergi ke dokter untuk melaksanakan khitan seperti apa yang disyaratkan Ica. Sebulan setelah dia sembuh dari khitannya dia pergi berangkat lagi ingin melaksanakan keinginannya yang kuat untuk dapat ‘membeli’ Ica sang WTS pujaan.
Setelah sampai di lokasi tanpa basa basi dia langsung menuju rumah dimana sang pujaan hati bermukim. Setelah ketemu, Icapun tidak lupa dengannya , dia menyambut kedatangan Lie Yong dengan sifat familiarnya . Sesaat mereka berdua ngobrol di serambi depan, lalu mereka masuk ke kamar yang sengaja dihias dengan indah agar tamu yang ‘beristirahat ‘ di kamar tersebut bisa betah dan krasan dan diharapkan tidak bosan-bosannya kembali lagi untuk bermalam. Apa yang terjadi ? Dialog session 2 terjadi diantara mereka . Di akhir dialog yang panjang itu, kembali lagi Ica menolak ‘berhubungan’ dengan Lien Yong walaupun Cina tersebut sudah memenuhi syarat seperti yang pernah dikatakannya yaitu khitan. Ica kembali lagi mensyaratkan kepada Lie Yong. Dirinya mau berhubungan dengan Cina setengah baya tersebut apabila dia sudah masuk Islam.
Sangat kecewa hati Lie Yong kali ini, Dia pulang dengan hati yang ‘medongkol’ dan ingin rasanya mencabik – cabik wajah Ica. Pupus harapan Lie Yong untuk bisa bersenang – senang dengan si seksi wanita malam yang banyak menjadi incaran pria hidung belang yang ingin mengumbar nafsu birahinya. Bak keinginannya untuk memiliki sebuah barang, dia selalu terbayang – bayang dengan Ica selama berhari – hari. Tekadnya yang kuat itu membuat Lie Yong berusaha mencari informasi kesana kemari untuk bisa masuk Islam dengan harapan bisa datang lagi memboking Ica semalam suntuk. Akhirnya dia menemui Ustad, sebut saja ustad Bukhori seorang juru dakwa , yang banyak diundang untuk memberi ceramah , tanpa mengutarakan tujuan yang sebenarnya, dia menanyakan bagaimana cara masuk Islam. Dengan senang hati Ustad Bukhori menjelaskannya dan seketika itu Lie Yong masuk Islam yang diawali membaca Syahadat di depan sang Ustad. Setelah membaca syahadat Lie Yong meminta usatad untuk membuat surat keterangan ( semacam sertifikat ) yang menerangkan bahwa dirinya sudah masuk Islam.
Dengan bekal secarik kertas yang menerangkan bahwa dirinya sudah masuk Islam , Lie Yong berangkat lagi menemui Ica dengan keyakinan dalam hatinya ‘kali ini pasti berhasil’. Tapi, bagaimanan kenyataannya ? Ternyata Ica tidak begitu saja percaya dengan secarik kertas yang dia bawa. Dia juga menanyakan proses bagaimana Lie Yong bisa memperoleh secarik kertas bukti keislamannya yang ditandatangani oleh ustad yang memang tidak diragukan kemampuan dakwanya. Disamping itu dia juga meminta bukti Ikrar syahadat di depannya. Dalam hati Lie “ Waduh ! kok sulit banget ya ? mau membeli dosa aja kok seperti mau umroh aja “.
Persyaratan demi persyaratan sudah Lie penuhi baik yang berat maupun yang ringan tapi keinginannya belum kunjung terpenuhi. Hal ini membuat hatinya penuh rasa jengkel dan gregetan . Tapi ini tidak membuat Lie putus asa. Dengan didorong rasa kemauan hatinya yang kuat dia bertekad harus ‘mendapatkan’ sang harlot pujaan, karena dia pikir dia sudah melalui beberapa rintangan yang begitu berat dan sudah menghabiskan biaya yang lumayan banyak. Tapi ternyata bagaimana jawaban Ica ? Si seksi itu ternyata masih menolak untuk bisa menyenangkan pria tengah baya bermata sipit itu. Tapi penolakan kali ini tidak seperti penolakan - penolakan sebelumnya. Dia mensyaratkan kepada orang yang punya keinginan yang kuat untuk membeli tubuhnya itu dengan sebuah pernikahan yang syah. Dia mengatakan, “ Kalau Engkau benar-benar ingin menikmati seluruh tubuhku ini engkau harus nikahi aku secara resmi”.
Setelah mendengar persyaratan Ica kali ini, mental Lie sangat-sangat down, dia berpikir bahwa memang sebenarnya Ica enggan atau tidak mau tubuhnya dibeli olehnya. Dia juga berpikir bahwa persyaratan yang selama ini diberikan oleh Ica sebetulnya mengada-ada dan tidak mungkin bisa dia penuhi, persyaratan-persyaratan itu sebetulnya merupakan sebuah bentuk penolakan dari Ica. Lie pulang dengan tubuh yang berkeringat basah serta nafas yang ngos-ngosan karena belum bisa melampiaskan nafsunya kepada Ica. Padahal Ica sudah mengundang masuk ke kamar khusunya, berhadap –hadapan empat mata .
Pulang dengan ‘ tangan hampa’ dan rasanya pintu sudah ditutup rapat oleh Ica, Lie tiap hari tetap tidak bisa tidur tetap merasa kangen dan selalu ingin ketemu Ica sang pujaan . Selama kurang lebih satu bulan lamanya Lie mencoba berjuangkan menenangkan pikirannya dan menghilangkan bayang – bayang Ica dalam emosi dan hatinya. Dia telah memutuskan untuk tidak menemui Ica lagi dalam ‘petualangannya’. Dalam pikirannya berkata “ Ah Wong gitu aja kok , walaupun tidak Ica kan gak apa – apa “. Tetapi walaupun sudah sekitar satu bulan dia berjuang untuk menghilangkan bayangan Ica dalam hatinya, sesekali pikiran Lie teringat akan perjuangannya yang begitu melelahkan untuk bisa ‘tidur’ dengan Ica. Disemangati oleh perjuangan sebelumnya dia bangkit, dia coba bertanya kesana kemari bagaimana menikah secara islam yang memang harus dilakukan untuk menyunting Ica. Segala informasi dia kumpulkan, segala pertanyaan dalam pikiranya dia coba untuk menemukan jawabannya. Akhirnya, dia nekat untuk melamar Ica ke rumahnya yang saat itu memang dia sedang berlibur di rumah. Saat itu bukan main kaget Ica. Dia merasa selama ini sudah banyak menyengsarakan Lie, dan Lie selalu memenuhi permintaan – permintaannya. Walaupun agak berat hati, rasa iba Ica akhirnya jatuh juga kepada Lie . Dengan tangan terbuka Ica menerima pinangan Lie dan akhirnya mereka menikah. Hidup mereka akhirnya benar-benar saling mencintai dan menyayangi dan mereka juga sungguh – sungguh menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangannya. Mereka bersyukur dan bertaqwa.
No comments:
Post a Comment