Selamat Datang di Berbagi Kisah Teladan Oleh Nur Utomo

Monday, July 11, 2016

Sang Dokter Gratis Sepanjang Usia


     Seorang mahasiswa kedokteran di salah satu Perguruan Tinggi ternama bernama Sabilah, telah menderita sakit batuk asma yang telah menahun dan tidak kunjung sembuh. Oleh beberapa dosennya ditawari untuk dilakukan percobaan pengobatan padanya. Dikatakan oleh mereka bahwa ini juga merupakan percobaan barangkali bisa sembuh dengan obat yang telah ditemukan. Sabilah berkenan dijadikan percobaan asalkan penyakitnya yang bertahun tahun belum kunjung sembuh bisa terobati dan sembuh, dia rela melakukan hal ini juga demi kemaslahatan umum, dengan maksud jika dirinya bisa sembuh maka obat hasil penemuan dosen dosennya itu bisa dipakai oleh orang – orang lain atau pasien pasien lain yang punya penyakit yang sejenis dengan penyakitnya.
     Sebelumnya, dokter – dokter yang juga dosennya itu mengatakan padanya bahwa efek samping obat batuk asma yang ditemukan itu akan membuatnya menjadi wanita yang tidak bisa punya anak alias mandul. Ternyata Sabilah tidak keberatan karena dia sudah sangat menderita dengan penyakitnya. Setelah penemuan obat dinyatakan sempurna maka Sabilah meminumnya obat tersebut. Selama tiga hari dia minum obat tersebut dan terbukti membawa kesembuhan penyakitnya. Setelah menyelesaikan studinya di fakultas kedokteran, dia dipinang oleh seorang dokter seniornya ( bukan dosennya ), dan Sabilah menerima pinangannya tetapi dia tidak menceritakan kejadian yang dialamaminya yaitu bahwa dirinya mandul tidak bisa mempunyai keturunan. Setelah sekian tahun mereka berumah tangga tidak ada keturunan, sang suami juga sabar menjalani ini semua. Suaminya tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun Sabilah sang istri juga bekerja membuat praktek kecil- kecilan di rumah. Namun praktek yang dikerjakan di rumah itu ditekadkan oleh Sabilah hanya untuk menolong masyarakat yang berada di sekitar rumahnya terutama orang – orang miskin. Ketika masyarakat berobat dia tidak pernah memungut biaya sepeserpun, bahkan ketika yang berobat orang miskin, Sabilah justru malah memberi uang saku kepadanya. Ini dilakukan juga atas persetujuan suaminya, karena menurut mereka penghasilan sang suami sudah bisa mencukupi kebutuhan kebutuhan hidupnya. Hal itu lama dilakukan mereka dan membawa dirinya dan sang suami dicintai dan disukai masyarakat sekelilingnya. Tidak jarang ketika mereka punya gawe orang – orang sekitar berbondong – bondong menawarkan bantuan, mungkin inilah kebenaran yang disampaikan oleh Allah ( In akhsantum akhsantum li anfusikum wala in asa’tum falaha ) dan rosulnya ( wallahu fi aunil abdi makanal abdu fi akhihi ). Ketika “sang dokter gratis” itu menginjakkan usianya yang ke 63 tahun, penyakit batuk asma yang dideritanya tiba – tiba muncul kembali . Hal ini membuatnya harus menghubungi kembali dosennya yang dulu menjadikan dia sebagai eksperimen dengan maksud menanyakan obat yang dulu bisa menyembuhkannya. Dengan susah payah dia berhasil mendapatkan obat tersebut , karena memang obat tersebut tidak sembarang orang bisa mendapatkan. Kata Dokter – dokter penemunya obat tersebut belum boleh diberikan kepada sembarang orang secara umum. Setelah selama tiga hari dia mengkonsumsinya ternyata penyakitnya tidak kunjung sembuh seperti diwaktu mudanya dulu. Penyakitnya semakin buruk dan buruk, akhirnya Yang Maha Kuasa memanggilnya dalam keadaan sedang melakukan sholat sunnah kegemarannya yaitu sholat sunnah Dhuhah. Mendengar ‘ sang dokter gratis ’ meninggal dunia, penduduk yang berada di sekitar kediamannya, berduyun – duyun ingin memberikan penghormatan yang terakhir. Puluhan bahkan ratusan orang ingin mensholatkan jenazahnya. Menjelang jenazahnya disholatkan terjadi sebuah keanehan. Seluruh penta’ziyah yang hadir serta seluruh keluarga yang memberi penghormatan terakhir kepadanya mencium bau harum bunga melati. Harumnya tidak hilang- hilang bahkan sampai jenazahnya diantar ke pemakaman, sepanjang jalan yang dilewati tercium bau harum bunga melati, dan ketika dimasukkan ke liang lahat harum bunga melati semakin kuat. Ini terjadi juga hingga semua penta’ziyah meninggalkan tempat pemakaman dan sepanjang perjalanan pulang hingga ke rumahnya masing –masing. Subhanallah !

No comments:

Post a Comment