Abdul
Ghofur lahir dari keluarga miskin di sebuah desa yang penduduknya belum
mengenal pendidikan tinggi. Dia anak pertama dari lima bersaudara. Orang tuanya
hanya bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Sejak kecil
dia gemar belajar agama. Ketika dia masih berumur 5 tahun tiap sore hari dia
berjalan kurang lebih 2 Km untuk menimba ilmu agama mengaji pada seorang guru ngaji di tempatnya.
Ketika
umurnya menginjak 7 tahun dia masuk sekolah Madaratsah Ibtida’iyah ( MI ) yang
tidak jauh dari rumahnya. Di sekolah, dia tidak menonjol dalam prestasi apapun
termasuk prestasi akademik. Tidak pandai, belajar di sekolah yang tidak maju
pula. Namun dia tekun untuk mempelajari agama dan mengamalkannya. Sholat lima
waktu, puasa senin kamis tidak pernah dia tinggalkan dan kebiasaan ini
dijalankannya sejak usianya menginjak 10 tahun alias duduk di kelas 4 MI.
Karena keadaan ekonomi keluarga yang miskin, dinding rumahnya terbuat dari
bambu, tiap pagi dia beserta keluarganya
menanak ketela pohon untuk makan pagi.
Setelah
lulus MI Abdul Ghofur meneruskan ke SMP swasta yang juga tidak jauh dari
rumahnya. SMP tempat dia belajar juga merupakan SMP yang tergolong tidak maju.
Muridnya tidak banyak, fasilitas yang dipunyai juga minim dan gedungnyapun juga
masih pinjam sekolah dasar ( SD ). Di SMP ini dia punya kesempatan untuk ikut
aktif dalam organisasi OSIS dan Pramuka. Dia selalu dikirim sekolahnya bila ada
undangan kegiatan-kegiatan Pramuka baik untuk tingkat kecamatan maupun
kabupaten. Meskipun sekolahnya tidak maju tapi eksistensinya bisa dikatakan kuat, karena fihak sekolah selalu berusaha
untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di tingkat kecamatan maupun
kabupaten.
Selepas
SMP Ghofur melanjutkan ke sekolah SMA swasta juga. Kali ini keberadaan
sekolahnya jauh dari rumahnya karena memang di sekitar desanya belum ada
sekolah setingkat SMA. Jarak dari rumahnya ke sekolah kurang lebih 10 Km, dia menempuhnya
dengan sepedah ontel yang sudah jelek dan tua yang satu-satunya dia miliki.
Setiap pagi dia berangkat sekolah tanpa mendahuluinya dengan sarapan, dia hanya
makan sebuah kue yang orang jawa menyebutnya ‘godhoh ketelo’ ( ubi jalar yang
dibungkus dengan rabuk tepung ). Supaya perut bisa kenyang dia menyiasati
dengan minum air putih yang banyak. Jika ayam piaraannya bertelur baru dia bisa
sarapan dengan sebutir telur rebus setiap pagi, kadang-kadang dia juga menukar
dua buah telur ayamnya dengan sepiring nasi di warung dekat tempat tinggalnya. Tidak
lupa setiap hari Senin dan Kamis dia rutin melakukan puasa sunnah yang memang
dianjurkan oleh nabi. Begitu besar
semangatnya untuk belajar mencari ilmu, agar kelak bisa memperbaiki
kehidupannya dimasa depan.
Usai
SMA, dia mengabdikan diri di sebuah yayasan yang dibawahnya bernaung lembaga
pendidikan MI dan SMP. Dia mengabdikan diri di MI dengan mengajar Bahasa
Inggris, meskipun kemampuan Bahasa Inggrisnya jauh dari kategori bagus. Sambil
mengajar, dia juga dengan ikhlas mengabdikan diri sebagai ‘cleaning service’ masjid yang juga merupakan milik yayasan dimana
dia bekerja sebagai guru honorer. Sehari-harinya dia menempati sebuah ruangan
yang menempel di samping masjid tersebut. Pengabdian ini dilakukan selama
bertahun tahun dengan sabar tanpa memperhitungkan penghasilan yang dia peroleh,
dalam benaknya yang penting dia bisa makan tanpa menggantungkan diri kepada orang
tuanya serta bisa melakukan ibadah sebanyak- banyaknya di masjid itu. Sholat
dhuha, tahajjud, serta puasa senin-kamis dilakukan dengan istiqomah oleh dia. Perlu
diketahui bahwa pendiri juga sekaligus pemilik
yayasan yang dia tempati adalah seorang
tokoh nasional yang tidak perlu diragukan lagi keikhlasannya untuk pencerahan
umat terutama penduduk yang berada di sekitarnya.
Setelah
sekian lama Ghofur mengabdi, datanglah seorang rektor akper yang bersilahturrahim
kepada tokoh pendiri yayasan, yang masih merupakan kerabatnya. Omong punya
omong, sembari bersilahturrahim, rektor bermaksud mencari seorang pembantu yang
jujur untuk mengantar jemput anaknya yang masih duduk di bangku SD. Tidak basa
basi, sang tokoh pemilik yayasan menyarankan agar rektor mengajak Ghofur yang
sehari-harinya bertempat di masjid untuk dijadikan pembantunya. Setelah ditawari Ghofurpun tidak menolak.
Akhirnya Ghofur diajak sang rektor ke rumahnya. Memperhatikan kerjanya yang
ringan tangan dan kejujurannya, Ghofur disuruh masuk akper yang dipimpinnya
alias dikuliahkan dengan biaya ditanggungnya. Kuliah yang diambilnya ketika itu
D3 jurusan keperawatan. Hari demi hari dilaluinya, tidak ada yang berat bagi
Ghofur menjalani tugas utama sebagai pembantu antar jemput anak sang rektor ke
sekolahnya sambil belajar dengan tekun menuntut ilmu keperawatan yang
direncanakan selesai selama tiga tahun.
Setelah
lulus kuliah yang dijalaninya selama tiga setengah tahun, Ghofurpun direkrut
sang rektor untuk membantu menjadi tenaga honorer di Rumah Sakit almamaternya.
Setelah selama dua tahun menjadi tenaga honorer, Ghofur meminta ijin kepada
sang rektor untuk mengikuti tes CPNS yang waktu itu kebetulan ada formasi yang
lumayan banyak untuk jurusannya. Dengan doa yang tiada henti – hentinya serta ‘tirakatnya’
yang kuat, Ghofur diterima sebagai CPNS di pulau Madura. Dengan ikhlas sang
rektor melepas Ghofur untuk menjalani tugas sebagai CPNS di pulau Madura.
Rektor berpikir itulah nasib baik Ghofur yang menjalani kehidupannya dengan
sungguh sungguh, jujur dan taat kepada Allah. Rektor rela melepasnya karena
anaknya juga sudah beranjak dewasa dan tidak memerlukan antar jemput lagi ke
sekolah.
CPNS
dijalani selama dua tahun, akhirnya dia diangkat sebagai PNS. Setelah dua tahun
menjalani tugas PNS sebagai perawat di sebuah puskesmas, dia menikah dengan
teman sejawatnya yang juga perawat di puskemas yang tidak jauh dari puskesmas
dimana dia bertugas. Kerjanya ikhlas diniatkan sebagai ibadah, jujur dan punya
komitmen terhadap tugas-tugasnya, alhasil dia dipercaya untuk memimpin seksi di
Dinas Kesehatan Kabupaten. Dengan keberhasilannya itu dia tidak lupa dengan
adik-adiknya di rumah yang serba kekurangan. Dia membiayai seluruh kebutuhan
keluarganya dan biaya pendidikan ke-empat adiknya sampai ke jenjang SMA dan
SMK. Selamat bertugas Abd.Ghofur, mudah – mudahan bisa menjadi inspirasi bagi
kita semua terutama yang senasib denganmu. Kami merindukan orang yang jujur,
ikhlas dan istiqomah sepertimu.
No comments:
Post a Comment