Selamat Datang di Berbagi Kisah Teladan Oleh Nur Utomo

Sunday, September 11, 2016

ABD.GHOFUR SANG PENJAGA MASJID ( Kisah Nyata )

                Abdul Ghofur lahir dari keluarga miskin di sebuah desa yang penduduknya belum mengenal pendidikan tinggi. Dia anak pertama dari lima bersaudara. Orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Sejak kecil dia gemar belajar agama. Ketika dia masih berumur 5 tahun tiap sore hari dia berjalan kurang lebih 2 Km untuk menimba ilmu agama  mengaji pada seorang guru ngaji di tempatnya.
                Ketika umurnya menginjak 7 tahun dia masuk sekolah Madaratsah Ibtida’iyah ( MI ) yang tidak jauh dari rumahnya. Di sekolah, dia tidak menonjol dalam prestasi apapun termasuk prestasi akademik. Tidak pandai, belajar di sekolah yang tidak maju pula. Namun dia tekun untuk mempelajari agama dan mengamalkannya. Sholat lima waktu, puasa senin kamis tidak pernah dia tinggalkan dan kebiasaan ini dijalankannya sejak usianya menginjak 10 tahun alias duduk di kelas 4 MI. Karena keadaan ekonomi keluarga yang miskin, dinding rumahnya terbuat dari bambu, tiap pagi dia beserta keluarganya  menanak ketela pohon untuk makan pagi.
                Setelah lulus MI Abdul Ghofur meneruskan ke SMP swasta yang juga tidak jauh dari rumahnya. SMP tempat dia belajar juga merupakan SMP yang tergolong tidak maju. Muridnya tidak banyak, fasilitas yang dipunyai juga minim dan gedungnyapun juga masih pinjam sekolah dasar ( SD ). Di SMP ini dia punya kesempatan untuk ikut aktif dalam organisasi OSIS dan Pramuka. Dia selalu dikirim sekolahnya bila ada undangan kegiatan-kegiatan Pramuka baik untuk tingkat kecamatan maupun kabupaten. Meskipun sekolahnya tidak maju tapi eksistensinya bisa dikatakan  kuat, karena fihak sekolah selalu berusaha untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
                Selepas SMP Ghofur melanjutkan ke sekolah SMA swasta juga. Kali ini keberadaan sekolahnya jauh dari rumahnya karena memang di sekitar desanya belum ada sekolah setingkat SMA. Jarak dari rumahnya ke sekolah kurang lebih 10 Km, dia menempuhnya dengan sepedah ontel yang sudah jelek dan tua yang satu-satunya dia miliki. Setiap pagi dia berangkat sekolah tanpa mendahuluinya dengan sarapan, dia hanya makan sebuah kue yang orang jawa menyebutnya ‘godhoh ketelo’ ( ubi jalar yang dibungkus dengan rabuk tepung ). Supaya perut bisa kenyang dia menyiasati dengan minum air putih yang banyak. Jika ayam piaraannya bertelur baru dia bisa sarapan dengan sebutir telur rebus setiap pagi, kadang-kadang dia juga menukar dua buah telur ayamnya dengan sepiring nasi di warung dekat tempat tinggalnya. Tidak lupa setiap hari Senin dan Kamis dia rutin melakukan puasa sunnah yang memang dianjurkan oleh nabi.  Begitu besar semangatnya untuk belajar mencari ilmu, agar kelak bisa memperbaiki kehidupannya dimasa depan.
                Usai SMA, dia mengabdikan diri di sebuah yayasan yang dibawahnya bernaung lembaga pendidikan MI dan SMP. Dia mengabdikan diri di MI dengan mengajar Bahasa Inggris, meskipun kemampuan Bahasa Inggrisnya jauh dari kategori bagus. Sambil mengajar, dia juga dengan ikhlas mengabdikan diri sebagai ‘cleaning service’ masjid yang juga merupakan milik yayasan dimana dia bekerja sebagai guru honorer. Sehari-harinya dia menempati sebuah ruangan yang menempel di samping masjid tersebut. Pengabdian ini dilakukan selama bertahun tahun dengan sabar tanpa memperhitungkan penghasilan yang dia peroleh, dalam benaknya yang penting dia bisa makan tanpa menggantungkan diri kepada orang tuanya serta bisa melakukan ibadah sebanyak- banyaknya di masjid itu. Sholat dhuha, tahajjud, serta puasa senin-kamis dilakukan dengan istiqomah oleh dia. Perlu diketahui bahwa pendiri  juga sekaligus pemilik  yayasan yang dia tempati adalah seorang tokoh nasional yang tidak perlu diragukan lagi keikhlasannya untuk pencerahan umat terutama penduduk yang berada di sekitarnya.              
                Setelah sekian lama Ghofur mengabdi, datanglah seorang rektor akper yang bersilahturrahim kepada tokoh pendiri yayasan, yang masih merupakan kerabatnya. Omong punya omong, sembari bersilahturrahim, rektor bermaksud mencari seorang pembantu yang jujur untuk mengantar jemput anaknya yang masih duduk di bangku SD. Tidak basa basi, sang tokoh pemilik yayasan menyarankan agar rektor mengajak Ghofur yang sehari-harinya bertempat di masjid untuk dijadikan pembantunya.  Setelah ditawari Ghofurpun tidak menolak. Akhirnya Ghofur diajak sang rektor ke rumahnya. Memperhatikan kerjanya yang ringan tangan dan kejujurannya, Ghofur disuruh masuk akper yang dipimpinnya alias dikuliahkan dengan biaya ditanggungnya. Kuliah yang diambilnya ketika itu D3 jurusan keperawatan. Hari demi hari dilaluinya, tidak ada yang berat bagi Ghofur menjalani tugas utama sebagai pembantu antar jemput anak sang rektor ke sekolahnya sambil belajar dengan tekun menuntut ilmu keperawatan yang direncanakan selesai selama tiga tahun.
                Setelah lulus kuliah yang dijalaninya selama tiga setengah tahun, Ghofurpun direkrut sang rektor untuk membantu menjadi tenaga honorer di Rumah Sakit almamaternya. Setelah selama dua tahun menjadi tenaga honorer, Ghofur meminta ijin kepada sang rektor untuk mengikuti tes CPNS yang waktu itu kebetulan ada formasi yang lumayan banyak untuk jurusannya. Dengan doa yang tiada henti – hentinya serta ‘tirakatnya’ yang kuat, Ghofur diterima sebagai CPNS di pulau Madura. Dengan ikhlas sang rektor melepas Ghofur untuk menjalani tugas sebagai CPNS di pulau Madura. Rektor berpikir itulah nasib baik Ghofur yang menjalani kehidupannya dengan sungguh sungguh, jujur dan taat kepada Allah. Rektor rela melepasnya karena anaknya juga sudah beranjak dewasa dan tidak memerlukan antar jemput lagi ke sekolah.
                CPNS dijalani selama dua tahun, akhirnya dia diangkat sebagai PNS. Setelah dua tahun menjalani tugas PNS sebagai perawat di sebuah puskesmas, dia menikah dengan teman sejawatnya yang juga perawat di puskemas yang tidak jauh dari puskesmas dimana dia bertugas. Kerjanya ikhlas diniatkan sebagai ibadah, jujur dan punya komitmen terhadap tugas-tugasnya, alhasil dia dipercaya untuk memimpin seksi di Dinas Kesehatan Kabupaten. Dengan keberhasilannya itu dia tidak lupa dengan adik-adiknya di rumah yang serba kekurangan. Dia membiayai seluruh kebutuhan keluarganya dan biaya pendidikan ke-empat adiknya sampai ke jenjang SMA dan SMK. Selamat bertugas Abd.Ghofur, mudah – mudahan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua terutama yang senasib denganmu. Kami merindukan orang yang jujur, ikhlas dan istiqomah sepertimu.            


No comments:

Post a Comment