Sudah termasyhur bahwa Abu Nawas adalah orang yang sangat cerdik di jaman Raja Harun Al Rasyid. Dengan kecerdikannya itu dia sering membuat banyak orang kagum dan tersadarkan diri dari kegelapan. Istri Abu Nawas adalah seorang wanita yang cantik. Suatu hari Abu Nawas diundang menghadiri sebuah hajatan di rumah seseorang yang kaya raya. Bisa dipastikan yang hadir di acara hajatan tersebut banyak sekali .
Ketika itu Abu Nawas hadir bersama dengan istrinya yang cantik. Kecantikan wajah istri Abu Nawas banyak mengundang perhatian para tamu yang hadir dalam acarara hajatan, terutama para tamu lelaki. Hampir semua tamu lelaki yang hadir melihat, menatap dan bahkan tidak sedikit yang melotot matanya memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita pendamping sang lelaki cerdik Abu Nawas. Perhatian itu tidak henti -henti hingga istri – istri mereka ( para tamu lelaki ) merasa cemburu dan melakukan gerakan terhadap suami – suami mereka agar kepalanya tidak menghadap ke istri Abu Nawas, atau dengan kata lain agar suami- suami mereka memalingkan kepala tidak melihat istri Abu Nawas.
Pada waktu istrinya diperhatikan banyak lelaki, Abu Nawas hanya bisa medongkol dalam hatinya meskipun ini juga dapat memunculkan rasa bangga karena istrinya cantik dan lebih cantik daripada istri – istri kebanyakan orang. Dia merasa bahwa banyak sekali lelaki yang tidak bisa menjaga pandangannya terhadap wanita- wanita lain yang lebih cantik daripada istrinya sendiri. Hal ini membuat Abu Nawas berpikir bagaimana caranya membuat para lelaki sadar akan perbuatan dosa yang mereka lakukan meskipun tergolong dosa kecil. Dia merencanakan sesuatu agar lelaki – lelaki yang punya kebiasaan melototi dan mengagumi istri orang lain sadar dan akhirnya tidak melakukan hal itu lagi.
Akhirnya Abu Nawas menemukan cara untuk tujuan menyadarkan mereka atau paling tidak mereka bisa merenungi akan kebiasaannya yang salah. Suatu hari Abu Nawas punya hajat dan mengundang hanya para lelaki ke rumahnya. Yang diundang adalah para lelaki yang sebagaian besar pernah melihat, mengagumi istrinya pada acara hajatan tetangganya sebelumnya. Setelah acara resmi digelar tiba saatnya Abu Nawas memberi hidangan kepada para tamunya. Hidangan yang diberikan hanya satu macam yaitu Cenil atau dalam bahasa jawa disebut Klanthing. Sengaja cenil yang dihidangkan kepada mereka dibuat berwarna warni, ada yang merah, kuning, hijau dan lain – lain. Bersama dengan kelengkapannya ( parutan kelapa ), disantaplah hidangan tersebut oleh tamu – tamunya , karena memang tidak ada hidangan lain yang bisa disantap. Kepada tamunya, Abu Nawas mempersilahkan dan menganjurkan pada mereka untuk mencoba rasa cenil yang berwarna lain selain yang dimakan sebelumnya. Setelah semuanya memakan cenil tibalah Abu Nawas memberi sedikit sambutan di hadapan mereka. Seperti dalam sambutan – sambutan yang biasa disampaikan dalam acara hajatan, Abu Nawas menyampaikan terima kasih atas kehadiran tamu-tamunya, kedua dia memohon maaf atas tempat dan hidangan yang dia berikan. Selanjutnya dia sampaikan bahwa dia sengaja memberi hidangan cenil dan cenilnya dibuat berwarna – warni. Abu Nawas menyempatkan bertanya pada mereka, “ Adakah rasa cenil yang berbeda, meskipun warnanya berbeda – beda ? “. Semua hadirin menjawab, “ Tidak “. Lalu Abu Nawas berkata, “ Itulah bapak – bapak tidak usah melirik, melihat atau memperhatikan cenil orang lain ( sembari menengok istrinya yang berada disampingnya)”, “ Rasanya cenil semua sama walaupun berbeda warna”, Lanjut Abu Nawas. Bersamaan dengan itu para tamu Abu Nawas tertunduk merasa malu. Sesaat kemudian, Abu Nawas mengkhiri sambutannya dengan salam. Wallahu ‘alam !
No comments:
Post a Comment